Senin, 15 Desember 2014

Berbagi Tips Seputar Instalasi Wireless Alarm (Bagian 2)

Tips 2 - Coba dulu sendiri

Supaya nanti tidak "pening kepala", ada baiknya kita (atau teknisi instalasi) mempelajari dulu sendiri paket standar yang akan dipasang. Tidak perlu berlama-lama, cukup dalam 1 – 2 hari saja, karena tujuan kita adalah segera memasang. Sekali lagi di sinilah pentingnya paket standar, dimana dalam waktu relatif singkat, setidaknya kita sudah bisa mengetahui:

1. Merk dan tipe produk.
2. Device apa saja yang termasuk ke dalam paket standar ini.
3. Fungsi dari setiap device.
4. Cara enrollment.
5. Cara menguji sinyal wireless.
6. Penempatan awal dari setiap device.
7. Langkah antisipasi jika terjadi masalah.

Jika termasuk pemula, tidak ada salahnya jika kita mencari referensi dari internet (You Tube), mencari support teknik dari penjual terpercaya, atau bahkan hingga konsul ke pihak factory (jika memungkinkan). Tetapi “mempraktekkannya langsung di atas meja” akan memberikan hasil optimal. Cara mana yang akan ditempuh, silakan. Adapun yang ingin kami sampaikan di sini adalah kita jangan mencoba ini dan itu di rumah customer !  Cobalah dulu di tempat sendiri sampai benar-benar paham, walaupun hanya di atas meja. Setelah siap, barulah kita praktekkan di tempat customer. Jika produknya bagus, niscaya hasilnya akan memuaskan!

Tips 3 – Rencanakan skenario pemasangan


Aspek Planning seringkali terlupakan, padahal -sesuai dengan kaidah POAC- seharusnya ia menempati urutan pertama dalam setiap proses untuk mencapai tujuan. Demikian pula halnya dengan pemasangan wireless alarm. Janganlah terlena oleh jargon “mudah dipasang”, sehingga kita datang ke lokasi tanpa persiapan dan rencana matang. Salah satunya adalah dengan menggambar denah rumah, walaupun hanya sebatas sketsa. Kelak denah ini sangat membantu kita saat troubleshooting

Nah, jika sudah menerapkan Tips 1 dan Tips 2 di atas, sejatinya kita tidak terlalu khawatir, karena device yang akan dipasang hanya sedikit.  Jika boleh, kami ambil wireless alarm merk DSC Alexor sebagai perumpamaan, maka skenarionya globalnya bisa seperti ini:

1. Mulailah dengan meletakkan Control Panel  di ruangan tengah rumah, dekat dengan sumber listrik dan saluran telepon. Panel jangan dipasang dulu.

2. Nyalakan control panel dan lakukanlah enrollment untuk Keypad, Remote Keyfob serta satu Door/Window Contact. Penting: Catat nomor zone dan ESN untuk setiap sensor wireless !

3. Dengan memainkan Door/Window Contact di tangan, lakukanlah Device Test ke setiap sudut rumah, sehingga diketahui apakah di lokasi tersebut sinyal yang diterima termasuk “Good” ataukah “Bad”.

4. Setelah puas, pasanglah Door/Window Contact tersebut di pintu utama atau di pintu keluar masuk rumah. Ini untuk memberi pelajaran kepada customer mengenai sifat Exit/EntryDelay .

5. Pasanglah PIR di ruang tamu, ruang tengah atau bahkan di ruang tidur utama. Inipun untuk memberikan pelajaran mengenai sifat Interior Stay/Away Zone atau Night Zone.

6. Pasanglah Keypad, bisa di ruang tengah, di ruang tidur utama atau di tempat lain selama sinyal wireless di lokasi tersebut termasuk “Good”.

7. Terakhir, aktifkan sistem melalui Remote atau Keypad, kemudian cobalah sistem dengan mentrigger sensornya satu per satu.

(Bersambung)

Selasa, 09 Desember 2014

Berbagi Tips Seputar Instalasi Wireless Alarm (Bagian 1)


Kendati secara teoritis wireless alarm terkesan mudah dipasang, namun tak jarang kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Kompleksitas bangunan (baca: rumah tinggal) seringkali memaksa kita berputar otak lebih keras. Namun kali ini bukan pada persoalan jalur kabel, melainkan pada pertanyaan dimanakah sebaiknya kita meletakkan control panel, apakah di ruang tidur, ruang tengah, lantai dasar, lantai atas atau bahkan di garasi atau basement misalnya? Memang pada buku petunjuk pemasangan hanya disebutkan kondisinya saja, yaitu jauh dari objek metal dan sumber frekuensi lain, tetapi dekat dengan sumber listrik dan jalur telepon. Tetapi, lokasi seperti itu tidak selalu didapati di rumah tinggal, sehingga letak panel ini menjadi persoalan utama.

Faktor kedua adalah soal struktur bangunan. Bangunan kelas menegah atas senantiasa memakai material yang kokoh lagi tebal untuk dinding-dinding utamanya. Material seperti ini merupakan musuh bagi sinyal wireless yang tidak seberapa kuat itu. Pernah satu kali ditanyakan pada penulis, bisa menembus berapa tembokkah sinyal wireless alarm itu?  Pertanyaan terbuka seperti ini seringkali ditanyakan, namun sesering itu pulalah kita tidak pernah tahu jawabannya.  Apa sebab? Sebab persoalannya bukan terletak pada jumlah tembok, tetapi lebih ke jalur komunikasi (communication path) antara semua device yang terlibat. 

Faktor ketiga, communication path yang dimaksud di atas ternyata tidak bisa terlihat mata!  Kontras dengan sistem kabel yang bisa dipastikan jalur-jalurnya, sinyal wireless alarm hampir tidak mungkin diketahui lintasannya. Sejujurnya, inilah advantage yang penulis sukai. Artinya, tidak mungkin seseorang “menggunting” sinyal radio seperti halnya ia memotong kabel. Namun, advantage inipun bisa saja menimbulkan problematika tersendiri di lapangan. (Belakangan diketahui, Texecom memiliki software khusus untuk mendeteksi communication path ini pada wireless alarm buatannya!)

Last but not least, adanya jargon “mudah dipasang” hingga istilah "DIY" (do it yourself) menyebabkan aspek perencanaan sebelum instalasi seringkali diabaikan, bahkan tanpa perencanaan sama sekali.  Hal ini baru disadari pada saat kita melakukan pengujian, ternyata didapati sejumlah device yang out of range padahal jaraknya tidak jauh-jauh amat. Bahkan, pada instalasi yang terbilang kompleks, adakalanya kita terpaksa mengurut ulang zone demi zone, karena lupa tidak memberi nomor pada device ketika enrollment. Atau -ini yang paling menakutkan- wireless siren tidak bisa dimatikan dari keypad, karena jarak keypad ke panel atau jarak panel ke siren yang out of range.  Jika sudah demikian, alih-alih mudah dan cepat, instalasi wireless alarm malah menjadi hal yang menjengkelkan.

Nah, berangkat dari problematika lapangan seputar instalasi wireless alarm ini, pada serial posting kali ini kami akan berbagi tips bagaimana meminimalkan resiko kesalahan seperti itu. Tujuannya agar instalasi wireless alarm ini benar-benar peace of mind sesuai dengan kaidah teknik yang benar. Barangkali di antara pembaca ada yang ingin berbagi terlebih dulu?  Silakan email kami di tanyaalarm@gmail.com

Baiklah sambil menunggu surat pembaca, kami akan membagi 10 Tips saat kita akan bekerja dengan wireless alarm. Ini kami anggap penting, karena sebagian orang menganggap instalasinya mudah, sehingga hal-hal penting justru terabaikan. Sedangkan sebagian lainnya menganggap sistem alarm wireless ini membuat pening kepala, sehingga ia tidak melirik sama sekali pada sistem ini, kecuali sistem kabel saja. Nah, kami akan mencoba menepis kedua anggapan di atas melalui tips berikut ini.


1.  Mulailah dengan paket standar (starter kit).

2.  Coba dulu sendiri.

3.  Rencanakan skenario pemasangan.

4.  Lakukan test before placed.

5.  Instalasi yang rapi.

6.  Prosedur test yang baik dan benar.

7.  Mencatat tanggal dan data pemasangan.

8.  Informasi yang lengkap ke customer.

9.  Memperkirakan kebutuhan mendatang.

10. After sales service sepenuh hati.


Tips 1 - Mulailah dengan paket standar (starter kit)


Bukan tanpa alasan kami mengatakan ini pada pembaca. Umumnya produk wireless alarm memiliki paket standar yang terdiri dari: Control Panel, Keypad, Remote, satu atau dua Door/Window Contact dan Motion Sensor berupa wireless PIR lengkap dengan baterainya. Keuntungan adanya paket standar ini adalah mempercepat waktu instalasi, sehingga kesan "mudah" akan langsung menancap di benak customer. Selain itu, setelah dibeli, customer merasa diberikan kesempatan untuk mencoba dan menilai sendiri bagaimana mudah dan rapihnya sistem wireless alarm, walaupun masih sederhana. Setelah puas mencoba tanpa ada masalah, kami yakin customer pasti akan menambah sensor di sana-sini, siren outdoor, bahkan hingga module untuk SMS. Kesempatan inilah yang kita tunggu-tunggu, bukan? :)

Mengapa ini kami katakan penting, sehingga menempati Tips pertama, sebab tidak jarang orang yang mempelakukan sistem wireless alarm ini layaknya sistem kabel. Sensor perlu dipasang  disana, disini, di bagian sana atau bagian sini. Akhirnya jumlah sensor wireless yang dipasang jumlahnya bejibun di sana-sini. Kami tidak mengatakan hal ini jelek, karena sampai di sini tampaknya aman-aman saja. Namun di saat terjadi trouble, maka analisanya menjadi sulit, apalagi jika aspek penempatan sensor tidak diperhatikan dari awal (tips untuk ini menyusul). Kesan "mudah" customer seketika itu berubah menjadi kesan "ribet" dan "pening kepala". Inilah yang kami khawatirkan. Jadi, penting bagi kita untuk memulai dari paket standar terlebih dulu. Setelah diketahui sistemnya stabil, aman dan customer-pun merasa nyaman, barulah kita ajukan penawaran tambahan. 

(Bersambung)

Senin, 08 Desember 2014

IP Alarm? (Bagian 2-Habis)


Melanjutkan bahasan kami bulan lalu, berikut ini adalah contoh menu yang diperoleh ketika kita berhasil mem-browse IP Alarm. Tampilannya boleh dibilang sederhana, bahkan bagi para pengembang web di tanah air boleh jadi tampilan ini terkesan tidak ada apa-apanya.


Namun, hal yang menarik bagi kami adalah ide dasarnya. Perhatikan bahwa pada menu Control di atas, nama Zone bisa kita custom dengan nama sendiri. Ini rasanya cukup menarik bagi user. Tab yang berwarna hijau berarti normal, sedangkan merah menyatakan kondisi aktif atau sedang mengalami trouble. Sekilas menu ini cukup mudah dipahami, bukan?

Contoh lain pada menu Zones di bawah ini, kita bisa mengatur konfigurasi dan sifat masing-masing zone dengan leluasa, tanpa perlu membuka buku program lagi, kecuali untuk memahami arti masing-masing option.



Sebagaimana halnya IP Camera, IP Alarm pun tidak lepas dari menu pengaturan Network. Nah, pada bagian ini kita memerlukan seorang technical support yang memiliki pemahaman mumpuni di bidang jaringan.  Ya, rupanya sudah saatnya sekarang ini teknisi Alarm dan CCTV harus memiliki pemahaman yang baik dalam bidang networking, baik sedikit apalagi banyak.  Tapi untungnya hanya sebatas mempelajari dasar-dasar networking tidaklah sesulit yang dibayangkan. Apalagi sekarang referensinya banyak bertebaran di internet. Tinggal ada kemauan dan waktu untuk mempelajari, maka umumnya orang yang tadinya awampun pada akhirnya bisa.




Adapun bagi end-user rasanya tidak perlu repot mempelajari menu di atas, sebab untuk mengoperasikan panel ini cukup dilakukan melalui gadget kesayangan, umumnya menjelang tidur. Aplikasinya, yaitu Micron Lite, kini sudah tersedia di Google Play dan iTunes untuk diunduh.

Terakhir, seperti telah disinggung sebelumnya prospek IP Alarm ini khususnya di tanah air, tinggal menunggu proses alamiah. Akankah produk sefenomenal ini mengalami nasib sama seperti halnya wireless alarm, yang hingga saat inipun masih ada saja kalangan pelaku bisnis alarm yang menyangsikan performanya?