Minggu, 24 Januari 2010

Fire Alarm (Bagian 3)

Disclaimer
Uraian ini dan uraian sambungannya hanya dimaksudkan untuk pengenalan saja, tidak boleh dijadikan referensi pelaksanaan proyek. Untuk proyek harap berpedoman pada ketentuan yang telah ditetapkan oleh Konsultan dan atau otoritas setempat.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jenis-jenis Detector Fire Alarm


1. ROR (Rate of Rise) Heat Detector
Heat detector adalah pendeteksi kenaikan panas. ROR adalah jenis detector yang paling banyak digunakan, karena selain harganya ekonomis juga aplikasinya luas.  Area deteksi sensor bisa mencapai 50m2 - 75m2 untuk ketinggian plafon 4m.  Sedangkan untuk plafon lebih tinggi, area deteksinya berkurang menjadi sekitar 30m2. Ketinggian pemasangan max. hendaknya tidak melebihi 8m. ROR banyak digunakan karena detector ini bekerja berdasarkan kenaikan temperatur secara cepat di satu ruangan kendati masih berupa hembusan panas. Umumnya pada titik 55oC - 63oC sensor ini sudah aktif dan membunyikan alarm bell kebakaran. Dengan begitu bahaya kebakaran (diharapkan) tidak sempat meluas ke area lain.  ROR sangat ideal untuk ruangan kantor, kamar hotel, rumah sakit, ruang server, ruang arsip, gudang pabrik dan lainnya. 

Prinsip kerja ROR sebenarnya hanya saklar bi-metal biasa. Saklar akan memuai saat mendeteksi panas dan terjadilah kontak.  Karena tidak memerlukan tegangan (supply), maka detector ini bisa juga dipasang langsung pada panel alarm rumah.  Dua kabelnya dimasukkan dari terminal L  dan C ke terminal Zone-Com pada panel alarm (boleh terbalik). Sedangkan jika dipasang pada panel Fire Alarm, maka pasanglah pada terminal L1 dan LC pada panel (misalkan untuk Loop 1), tetapi tidak boleh terbalik. Sedangkan sifat kontaknya sendiri disebut NO (normally open).

2. Fix Temperature
Fix Temperature termasuk juga ke dalam Heat Detector. Berbeda dengan ROR, maka Fix Temperature baru mendeteksi pada derajat panas yang langsung tinggi. Oleh karena itu cocok ditempatkan pada area yang lingkungannya memang sudah agak panas, seperti:  ruang genset, basement, dapur-dapur foodcourt, gudang beratap asbes, bengkel las dan sejenisnya.  Alasannya, jika pada area itu dipasang ROR, maka akan rentan terhadap false alarm (alarm palsu), sebab bisa jadi hembusan panasnya saja sudah menyebabkan ROR mendeteksi.  Area efektif detektor jenis ini adalah 30m2 (pada ketinggian plafon 4m) atau 15m2 (untuk ketinggian plafon antara 4 - 8m). Seperti halnya ROR, detector ini cuma memiliki 2 terminal, yaitu  L dan LC boleh terbalik jika dipasang pada panel alarm rumah. Sedangkan bila kita memakai panel fire alarm, maka L dan C ini dihubungkan ke terminal L1 dan C pada panel. Sifat kontaknya adalah NO (Normally Open).


3. Smoke Detector
Smoke Detector mendeteksi asap yang masuk ke dalamnya. Asap memiliki partikel-partikel yang kian lama semakin memenuhi ruangan smoke (smoke chamber) seiring dengan meningkatnya intensitas kebakaran. Jika kepadatan asap ini (smoke density) telah melewati ambang batas (threshold), maka rangkaian elektronik di dalamnya akan aktif.  Oleh karena berisi rangkaian elektronik, maka Smoke memerlukan tegangan.  Pada tipe 2-Wire tegangan ini disupply dari panel Fire bersamaan dengan sinyal, sehingga hanya menggunakan 2 kabel saja.  Sedangkan pada tipe 4-Wire (12VDC), maka tegangan plus minus 12VDC-nya disupply dari panel alarm biasa sementara sinyalnya disalurkan pada dua kabel sisanya.  Area proteksinya mencapai 150m2 untuk ketinggian plafon 4m.
    
Pertanyaan yang sering diajukan adalah di area mana kita menempatkan Smoke dan di area mana kita menempatkan Heat.  Apabila titik-titiknya sudah ditetapkan secara detail oleh konsultan proyek, maka kita harus mengikuti gambar titik yang diberikan.   Namun apabila belum, maka secara umum patokannya adalah:


Jika diperkirakan di area tersebut saat awal terjadi kebakaran lebih didominasi hembusan panas ketimbang kepulan asap, maka tempatkanlah Heat Detector. Contoh: ruang filing cabinet, gudang spare parts dari logam (tanpa kardus), bengkel kerja mekanik dan sejenisnya.


Sebaliknya jika didominasi asap, sebaiknya memasang Smoke. Contoh: ruangan no smoking area yang beralas karpet (kecuali kamar hotel), gudang kertas, gudang kapas, gudang ban, gudang makanan-minuman (mamin) dan sejenisnya.

Sedangkan pada aplikasi rumah tinggal, maka ilustrasinya seperti ini:



Jenis Smoke Detector dan Sedikit Cara Kerjanya

Ionisation Smoke Detector bekerja berdasarkan proses ionisasi molekul udara oleh unsur radioaktif Am (Americium241). Bahan ini digunakan sebagai pembangkit ion di dalam ruang detector (Figure 1). Dalam detector terdapat dua plat yang masing-masing bermuatan postif dan negatif. Ion bermuatan positif akan tertarik ke plat negatif, sedangkan ion negatif tertarik ke plat positif. Proses ini akan menghasilkan sedikit arus listrik yang dikatakan "normal" (Figure 2). Manakala asap kebakaran masuk, terjadilah tumbukan antara partikel asap dengan molekul udara (yang terionisasi tadi). Sebagian partikel asap akan dimuati oleh ion positif dan sebagian lagi oleh ion negatif. Oleh karena ukuran partikel asap lebih besar dan jumlahnya lebih banyak daripada molekul udara (yang terionisasi tadi), maka arus ion yang sebelumnya "normal" tadi, kini akan mengecil akibat terhalang oleh partikel asap. Jika sudah melampaui batas ambangnya, maka terjadilah kondisi "alarm" (Figure 3). 




Oleh karena faktor kelembaban dan tekanan udara sering memberikan efek yang sama seperti asap, sehingga dapat mengganggu kerja detector ini, maka dibuatlah detector yang memakai dua ruang (dual chamber). Dual chamber terdiri dari dua ruang, masing-masing dinamakan Reference Chamber yang berhubungan langsung dengan udara luar dan Sensing Chamber yang berhubungan dengan Reference Chamber seperti terlihat pada Figure 4. Rangkaian elektronik memonitor kondisi kedua ruang tersebut. Jika arus ion di kedua ruangan tersebut stabil, maka dikatakan kondisi "normal". Kelembaban dan tekanan udara hanya terjadi di Reference Chamber saja. Jika asap masuk ke Sensing Chamber, maka arus ion menjadi tidak seimbang. Ini akan menyebabkan kondisi alarm. Kendati demikian, ada saja faktor yang bisa mengganggu kinerja detector dual chamber ini, diantaranya: debu, kelembaban berlebih (kondensasi), aliran udara keras dan serangga kecil. Faktor tersebut bisa salah terbaca oleh detector, sehingga disangka sebagai asap.




Photoelectric (Optical) Smoke Detector  bekerja berdasarkan perubahan cahaya di dalam ruang detector (chamber) disebabkan oleh adanya asap dengan kepadatan tertentu. Berdasarkan prinsip kerjanya, kita kenal dua jenis optical smoke, yaitu:

1. Light Scattering. Prinsip ini yang banyak dipakai oleh smoke detector saat ini. Terdiri atas light-emitting diode (LED) sebagai sumber cahaya dan photodiode sebagai penerima cahaya. LED diarahkan ke area yang tidak terlihat oleh photodiode (Figure 6). Jika ada asap yang masuk, maka cahaya akan dipantulkan ke photodiode, sehingga menyebabkan detector bereaksi (Figure 7).


   


2. Light Obscuration. Prinsip ini mirip dengan cara kerja beam sensor pada alarm. Cahaya yang terhalang oleh asap menyebabkan detector mendeteksi (Figure 8). Prinsip ini pula yang digunakan pada smoke detector jenis infra red beam, sehingga bisa mencapai panjang hingga 100m (insya Allah bahasannya menyusul).