Senin, 25 Januari 2010

Fire Alarm (Bagian 4)





Disclaimer
Uraian ini dan uraian sambungannya hanya dimaksudkan untuk pengenalan saja, tidak boleh dijadikan referensi pelaksanaan proyek. Untuk proyek harap berpedoman pada ketentuan yang telah ditetapkan oleh Konsultan dan atau otoritas setempat.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
4. Flame Detector
Flame Detector adalah detector yang sensitif terhadap radiasi sinar ultraviolet yang ditimbulkan oleh nyala api. Tetapi detector ini tidak bereaksi pada lampu ruangan, infra merah atau sumber cahaya lain yang tidak ada hubungannya dengan nyala api (flame). Aplikasi detector ini bisa meliputi:
-Rumah yang memiliki plafon tinggi, aula, gudang, galeri.
-Tempat yang mudah memercikkan api, seperti: gudang bahan kimia, pompa bensin, pabrik, ruangan mesin, ruang panel listrik.
-Ruang komputer, sever, arsip dan sebagainya.

Penempatan detector harus bebas dari objek yang menghalangi, dan diusahakan tidak dekat dengan lampu mercury, lampu halogen dan lampu untuk sterilisasi. Juga hindari tempat-tempat yang sering terjadi percikan api (spark), seperti di bengkel-bengkel las atau bengkel kerja yang mengoperasikan gerinda. Dalam percobaan singkat,  detector ini menunjukkan performa yang sangat bagus.  Respon detector terbilang cepat saat korek api dinyalakan dalam jarak 3 - 4m.  Oleh sebab itu, pemasangan di pusat keramaian dan area publik harus sedikit dicermati. Jangan sampai orang yang hanya menyalakan pemantik api (lighter) di bawah detector dianggap sebagai kebakaran.  Boleh juga dipasang di ruangan bebas merokok (No Smoking Area), sehingga saat pemantik dinyalakan, bunyi alarm terjadi di ruangan itu saja sebagai peringatan bagi orang yang membandel. 


5. Gas Detector
Sesuai dengan namanya detector ini mendeteksi kebocoran gas yang kerap terjadi di rumah tinggal. Alat ini bisa mendeteksi dua jenis gas, yaitu:

-LPG (elpiji)    : Liquefied Petroleum Gas.
-LNG (el-en-ji): Liquefied Natural Gas.

Dari dua jenis gas tersebut, elpiji adalah yang paling banyak digunakan di rumah-rumah.  Perbedaan LPG dengan LNG adalah:  elpiji lebih berat daripada udara, sehingga apabila bocor, gas akan turun mendekati lantai (tidak terbang ke udara). Sedangkan LNG lebih ringan daripada udara, sehingga jika terjadi kebocoran, maka gasnya akan terbang ke udara.  Perbedaan sifat gas inilah yang menentukan posisi pemasangan detector sebagaimana ilustrasi di bawah ini:


Untuk gas elpiji (LPG), maka letak detector adalah di bawah, yaitu sekitar 30 cm dari lantai dengan arah detector menghadap ke atas. Hal ini dimaksudkan agar saat bocor, gas elpiji yang turun akan masuk ke dalam ruang detector sehingga dapat terdeteksi. Jarak antara detector dengan sumber kebocoran tidak melebihi dari 4m.

Sedangkan untuk LNG, maka pemasangan detectornya adalah tinggi di atas lantai, tepatnya 30cm di bawah plafon dengan posisi detector menghadap ke bawah. Sesuai dengan sifatnya, maka saat bocor gas ini akan naik ke udara sehingga bisa terdeteksi. Jarak dengan sumber kebocoran hendaknya tidak melebihi 8m.


PERINGATAN - Dapur atau ruangan yang dipenuhi oleh bocoran gas adalah sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan ledakan, karena kedua jenis gas ini amat mudah terbakar (highly flammable).