Kamis, 04 Februari 2010

Istilah CCTV (Bagian 6)

Telah disinggung pada bahasan lalu, bahwa lux memegang peranan dalam menentukan hasil gambar. Camera dengan lux kecil memang sensitif pada malam hari, tetapi di siang hari cenderung akan silau. Kali ini akan kami jelasakan peranan F Stop dalam kaitannya untuk mengatasi masalah silau ini.

Pengaruh F Stop terhadap Depth of Field 
Sejujurnya kami bukan seorang fotografer, baik amatir apalagi profesional, sehingga sulit menjelaskan fenomena ini dari sisi teknik fotografi. Namun, apa yang kami coba beberapa tahun lalu terhadap dua jenis lensa dengan F Stop berbeda memperlihatkan secara jelas betapa berpengaruhnya nilai F Stop ini terhadap hasil gambar. Perhatikanlah dua screenshot di bawah ini.

Lensa Varifocal 3.5mm - 8mm 1/3" F1.0            



Pada lensa dengan nilai F = 1.0, camera terlihat silau (istilah lainnya: whiting out), sehingga ada bagian yang terlihat fokus, ada pula yang tidak. Dalam gambar di atas, bagian yang tampak fokus hanya filing cabinet di bagian depan, sedangkan sisanya kabur (out of focus). Perbandingan antara area yang fokus dengan area yang kabur tadi disebut dengan istilah Depth of Field (Ind. kedalaman medan). Perhatikanlah kepala, wajah, jam dinding dan anak tangga di area belakang. Semuanya seolah tenggelam oleh pantulan dinding berwarna putih, bukan?


Lensa Varifocal 3.5mm - 8mm 1/3" F1.4
Namun, saat lensa diganti dengan yang bernilai F=1.4, pengaruh silau tadi semakin berkurang dan depth of field pun tampaknya menjadi lebih baik. Perhatikanlah kepala, wajah, jam dinding, anak tangga di latar belakang. Kini terlihat menjadi lebih jelas, bukan? Bahkan, di dinding ternyata ada whiteboard yang sebelumnya "tenggelam", tetapi kali ini kian tampak jelas.

Depth of Field menyatakan perbandingan antara area yang fokus dengan yang kabur dalam satu frame.  Depth of field yang besar akan memiliki area fokus yang luas. Artinya, objek dekat maupun jauh akan tampak jelas. Sebaliknya, depth of field yang kecil hanya memiliki sebagian area saja yang fokus, selebihnya kabur. Depth of field ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.  Lensa sudut lebar (milimeter-nya kecil) umumnya memiliki area fokus lebih luas ketimbang lensa zoom.  Sedangkan nilai F stop lensa yang besar memiliki area fokus yang besar juga. Pada lensa auto iris, penyesuaian aperture (F Stop) ini akan selalu diikuti dengan variasi depth of field secara konstan. Depth of field cenderung akan mengecil pada malam hari,  karena pada saat itu lensa auto-iris akan terbuka penuh. Akibatnya, objek yang tadinya tampak fokus di siang hari, pada malam hari bisa menjadi tidak fokus lagi.

Kesimpulan yang bisa diambil oleh penulis secara awam terhadap masalah ini adalah:

1.   F Stop (atau biasa disingkat F saja) merupakan parameter lensa yang berhubungan dengan kemampuan lensa tersebut dalam menahan cahaya masuk.

2.   Nilai F yang kecil akan meloloskan cahaya lebih banyak daripada F yang besar.

3.  F yang besar lebih dibutuhkan pada siang hari (seperti pada percobaan di atas). Sedangkan untuk malam hari –jika tidak terlalu kritis-  objek yang gelap bisa dibantu dengan penerangan tambahan. Ini lebih kami sukai ketimbang mengandalkan perubahan F stop.

4.  Kualitas lensa tidak hanya dilihat dari parameter F stop saja. Jadi, lensa dengan F besar tidak dikatakan lebih baik kualitasnya daripada F yang kecil.

5.  Selain oleh F stop, kualitas hasil akhir gambar ditentukan juga oleh: resolusi camera, kualitas ccd, format camera, kualitas DVR dan TV monitornya sendiri. Jadi dalam menentukan kualitas gambar, parameter F Stop tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya acuan.  

6.  Untuk aplikasi outdoor ada yang menyarankan agar kita menggunakan lensa dengan F Stop yang variabel, yaitu auto iris. Benarkah demikian?