Senin, 25 Oktober 2010

Pro-Kontra Adaptor Switching



Salah seorang staf teknik kami cukup heran tatkala melakukan pengetesan camera di kantor. Pasalnya, video balun yang selalu kami dengung-dengungkan bagus itu, ternyata masih menyisakan guratan interferensi yang cukup mengganggu. Lebih heran lagi saat power supply camera diganti dengan adaptor jenis switching, gangguan tersebut malah bertambah besar. Lha..kok bisa? Apa sebabnya?  Lantas, apa dong yang menjadi kelebihan adaptor switching ini dibandingkan dengan adaptor linier biasa? 


Perbedaan utama adaptor switching dibanding adaptor linear biasa adalah dari sifat outputnya. Pada adaptor biasa, tegangan outputnya bersifat kontinyu (terus menerus ada), sedangkan output adaptor switching sifatnya nyala-mati (on-off). Interval nyala-mati ini memang sangat singkat sekali, yaitu 50kilo-hertz (kHz) dan 1 Mega-hertz (MHz) bergantung dari tipe dan merknya.  Perlu diketahui, 50kHz artinya 50 ribu kali per detik, sedangkan 1 MHz adalah satu juta kali per detik. Saking cepatnya waktu on-off ini, maka ia seakan-akan "kontinyu" juga, padahal tidak.


Alhasil, adaptor switching ini diklaim memiliki kelebihan, yaitu kerjanya sangat efisien (hemat listrik), karena tidak terus-menerus on.  Adaptor ini bisa lebih "dingin" sekalipun mengalirkan arus yang relatif besar. Oleh sebab itu, jenis ini banyak dipakai pada peralatan yang memerlukan arus besar, namun bentuknya harus kecil, misalnya: adaptor DVR Standalone, adaptor laptop, power supply komputer, bahkan pada beberapa jenis charger handphone. 


Selain keuntungannya, ada pula sisi "kerugiannya". Adaptor ini memerlukan rangkaian switching yang kompleks (artinya: lebih mahal) serta desainnya harus mantap, khususnya pada bagian low-pass filter. Rangkaian switching menerapkan frekuensi tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan gangguan berupa noise dan interferensi pada peralatan yang dipakai. Jika frekuensi yang dihasilkan oleh aktivitas switching on-off ini tidak di-filter dengan baik, maka akan timbul osilasi, yaitu munculnya frekuensi-frekuensi "baru" yang merupakan kelipatan dari frekuensi dasarnya. Misalkan frekuensi switching ini bekerja pada 50kHz, maka harmonik yang terjadi adalah 100kHz, 200kHz dan seterusnya dengan intensitas yang semakin kecil. Salah satu komponen harmonik ini bisa saja "menganggu" peralatan lain, seperti yang dialami oleh staf teknik kami di kantor tadi. 


Untuk kasus video balun, dimana sinyal video dan sinyal power memakai pasangan kabel yang saling berdekatan, maka frekuensi switching ini bisa saja "menginduksi" sinyal video. Akibatnya, timbullah gelombang berjalan pada gambar.  Itulah sebabnya, manakala adaptor diganti dengan tipe analog (bukan adaptor switching), maka gangguan tadi jadi berkurang.