Minggu, 28 Agustus 2011

Yuk, Mengenal Access Point! (Bagian 4 - Habis)

Setelah memperoleh parameter FZC, maka sekarang kita tinggal mencari parameter lain yang bisa diperoleh dengan cukup mudah, yaitu:

  9. Elevasi A 
10. Elevasi B
11. Tinggi Antena


Oleh karena saling berkaitan, maka kami akan bahas ketiga-tiganya sekaligus. Elevasi yang dimaksud adalah perbedaan ketinggian antara dua tempat dari permukaan laut, misalkan antara Kantor dan Rumah seperti pada contoh kita ini. Perbedaan ketinggian ini perlu diketahui untuk mendapatkan gambaran kasar mengenai tinggi antenna minimal yang harus dibangun di masing-masing lokasi. Agar lebih jelas, perhatikanlah ilustrasi berikut.



Berbekal data Altitude dari GPS, kita dapat mengetahui selisih ketinggian antara Kantor dan Rumah, yaitu 761m - 734m = 27m. Bukankah ini artinya jika kita mendirikan tower setinggi 27m di Rumah (lihat h1), maka sejatinya tinggi itu baru menyentuh dasar tanah di kantor? Apabila ya, maka (logikanya) kita perlu menambah lagi ketinggian antenna di Rumah, katakanlah sebesar h2, agar memenuhi nilai FZC, bukan?

Sekarang perhatikanlah lokasi Kantor. Jika diketahui FZR = 10.9m, maka 80% FZR akan sama dengan 8.72 m. Hal ini akan menyebabkan "bola rugby" justru semakin naik, bukan? Oleh sebab itu, hanya sekadar menghindari level tanah saja, antenna di Kantor minimal harus memiliki ketinggian 10.9m + (10.9m - 8.72m) atau kurang lebih 12m - 13m. Sebagai konsekuensinya, maka tower di Rumahpun mesti naik lagi sekitar 12m (h2), sehingga secara keseluruhan tinggi antenna rumah menjadi 27m + 12m = 39m ! Perhitungan ini berlaku dengan asumsi tidak ada objek yang menghalangi langsung. Jika ada, maka secara teoritis kita harus mendirikan tower lebih tinggi lagi di kedua tempat. Demikianlah kira-kira gambarannya.

12. Arah Stasiun Lawan (Aiming, Pointing)
Setelah tower berdiri, kini giliran bagian tersulit dalam Access Point, yaitu mengarahkan antenna satu sama lain agar saling "berpandangan". Cuma masalahnya diarahkan ke mana? Berapa derajat? Nah, dalam Access Point sejatinya kita tidak bisa memakai metoda layaknya memutar antenna televisi di rumah (sambil berteriak: kurang kiri.., kanan dikit, trus..trus, oopp...stoop dan sebagainya). Oleh sebab itu, sebelum teknisi memanjat tower, sebaiknya ia melakukan "gladi resik" dulu di darat ke mana antena akan diarahkan dan berapa derajat, yaitu dengan bantuan compass arah. Jadi, jangan sampai ia terlalu lama berada di atas tower atau sering naik-turun hanya untuk mencari arah awal saja.

Sebagai gambaran kasar, kita bisa melihat data yang disebut Bearing. Pada pembahasan mengenai Latitude dan Longitude, di sana tertera keterangan mengenai Bearing seperti ini:


Terus terang, pada awalnya kami kesulitan dalam memahami apa maksud dari derajat yang 319 dan 139 itu, karena kami sama sekali tidak pernah mengikuti kegiatan Pramuka, perkumpulan pencinta alam apalagi sebagai tim SAR! Oleh karena itu kami coba memetakan kedua lokasi tersebut melalui Google Earth. Pada Google Earth, kami tandai dua lokasi yang dimaksud dan ternyata posisi kedua stasiun tampak seperti gambar di bawah ini.


Setelah kedua titik diketahui pasti, kami membuat lingkaran-lingkaran yang bisa menceritakan kondisi real di lapangan. Ternyata, bearing yang dimaksud tidak lain adalah kemiringan garis lurus yang melintang diantara dua stasiun. Jika posisi relatif setiap stasiun terhadap arah Utara (North) bisa dipertahankan, maka derajat kemiringan stasiun lawan bisa diketahui, bukan? Setelah menarik garis interpolasi seperti pada gambar di atas, maka sebelum memanjat tower, teknisi bisa men-simulasi-kan dulu ke mana antenna mesti diarahkan. Jika ingin lebih pasti, kita bisa mem-print gambar di atas dan menjiplaknya kembali di atas kertas dengan bantuan busur derajat, penggaris, pensil dan penghapus. Nanti hasil jiplakannya akan berupa interpolasi garis dan sudut yang bisa ditebalkan dengan spidol. Saat semua derajat sudah diketahui dengan benar, maka bunyi perintah untuk teknisi di atas tower nantinya kurang lebih seperti ini.

Tower Kantor  
"Hadapkan dulu antena ke arah Timur, lalu putar ke kanan sejauh 40 derajat".

Tower Rumah 
"Hadapkan dulu antena ke Utara, lalu putar ke kiri sejauh 50 derajat".

(atau dengan perintah lain yang lebih mudah dipahami)

Pada pelaksanaannya, bila perlu Compass bisa ditempelkan selurus mungkin di atas antenna AP dengan memakai double tape yang agak tebal. Diharapkan dengan metode pointing seperti ini, setidaknya kedua stasiun sudah bisa melakukan komunikasi pendahuluan (inisialisasi). Bahkan, apabila kedua unit tersebut sudah disetting sejak awal di darat, tidak mustahil komunikasi keduanya bisa langsung jreng alias tokcer cukup dengan sekali pointing saja. Hal-hal yang berkaitan dengan testing ping, latencysetting mode dan sebagainya, insya Allah kami bahas pada posting mendatang. Semoga sajian kami pada serial kali ini bisa memberikan gambaran sekaligus wawasan yang bermanfaat untuk pembaca. Selamat berkarya!