Senin, 08 Juli 2013

Basic Troubleshooting CCTV yang Terlupakan

Dalam satu jurnal disebutkan, bahwa penelitian terhadap 10,000 komplain yang berkenaan dengan instalasi CCTV dari berbagai merk, disimpulkan sebanyak 65% gangguan CCTV disebabkan oleh masalah kabel, khususnya dari jenis coaxial. Termasuk hal ini adalah jeleknya kualitas kabel coaxial, kesalahan memilih kabel, jeleknya connector dan cara penyambungan. Selanjutnya, 27% lagi disebabkan oleh faktor power supply dan kondisi lingkungan, yaitu tegangan drop, buruknya sistem grounding atau panas yang berlebihan di sekitar peralatan. Sedangkan 7% diakibatkan oleh kesalahan dalam setting dan konfigurasi peralatan. Namun, yang mencengangkan adalah sisanya, yaitu hanya 1% saja gangguan yang diakibatkan oleh kesalahan unit. Angka ini tentu saja bisa menjadi kabar gembira bagi penjual, bukan? 

Terlepas dari valid tidaknya data di atas, namun ada satu benang merah yang bisa ditarik, yaitu saat troubleshootingfaktor bagusnya kabel memegang peranan penting. Kabel tersebut adalah coaxial cable yang sering digunakan pada instalasi CCTV, baik jenis RG-59, RG-6 atau RG-11. Pada posting kali ini, kami tidak akan membahas kabel merk apa yang bagus, sebab kualitas kabel akan sebanding dengan cost. Namun, bagaimanakah kita meyakini bahwa instalasi kabel tidak ada masalah?


Sedikit Penyegaran Seputar Kabel Coaxial  
Pengetahuan tentang kabel coaxial sudah sering disinggung, tetapi kita minim informasi. Kali ini kami hanya akan menyegarkannya kembali. Peralatan mahal dan canggih akan menjadi sia-sia, jika sinyal video tidak disalurkan melalui media yang tepat. 

Umumnnya kabel coaxial memakai code RG, misalnya RG-59/U. RG adalah singkatan dari radio guide atau radio grade, 59 menyatakan diameter kabel dan impedansi 75 ohm, sedangkan U menyatakan aplikasi universal (umum). Tapi, kebanyakan dari kita tidak ngeh soal komposisi material kabel, terutama pada bagian anyamannya (braid atau woven shield). Asal harganya murah, cukuplah spesifikasi sampai di sini. Padahal di satu sisi, faktor materialpun perlu diketahui. Perhatikanlah gambar di bawah ini.



Seperti terlihat pada gambar di atas, kabel coaxial terdiri atas inner conductor (A) dan shield berupa anyaman (wovenbraid) pada lapisan atasnya. Adapun komposisi material kabel yang dikenal hingga saat ini adalah:

1. SC ( solid copper ), yaitu bahan tembaga. 
2. AL ( aluminium ).
3. CCA ( copper covered aluminium ), yaitu aluminium yang dilapisi tembaga.
4. CCS ( copper covered steel ), yaitu besi yang dilapisi tembaga.

Kendati tembaga, aluminium dan besi sama-sama merupakan penghantar listrik yang baik, namun pada aplikasi CCTV, lebih ditekankan untuk menggunakan kabel berbahan tembaga, baik untuk center conductor maupun braid-nya. Apa sebab? Ini disebabkan karena output camera CCTV merupakan sinyal video komposit yang tergolong ke dalam frekuensi rendah dibanding sinyal televisi. Sinyal frekuensi rendah memerlukan kabel dengan resistansi DC yang kecil agar selamat dari redaman (losses). Pada gambar, resistansi ini disimbolkan oleh huruf r). Dibandingkan aluminium dan besi, kabel tembaga memiliki resistansi DC paling kecil. Oleh sebab itu, kabel coaxial dari jenis tembagalah yang idealnya dipilih untuk instalasi CCTV. Tidak mengherankan apabila coaxial jenis ini harganya lebih mahal.

Beralih ke sinyal televisi. Kendati sama-sama mengandung video komposit, namun sinyal televisi memiliki komponen frekuensi tinggi berupa gelombang radio (radio frequency, RF). Pada gelombang elektromagnetik, resistansi DC satu kabel tidak terlalu berpengaruh pada transmisi. Jadi, untuk sinyal televisi, penggunaan kabel berbahan dasar aluminium atau besi merupakan pilihan logis. Alasannya kembali pada persoalan cost yang lebih murah.  Kesimpulannya, kabel CCTV yang baik semuanya berbahan tembaga -baik bagian dalam maupun anyamannya-, sedangkan kabel televisi memakai bahan aluminium pada anyamannya.


                                                             (klik untuk memperjelas)

Dengan banyaknya pilihan merk dan harga, situasi di lapangan seringkali confuse. Kita tidak sempat lagi memeriksa kabel secara detail, yang penting coaxial, 75 ohm, harganya murah, titik! Kendati ini sah-sah saja, namun setidaknya sekarang kita mengetahui alasan mengapa merk A lebih mahal ketimbang merk B atau sebaliknya. 

Berita lainnya adalah masalah copper dan aluminium ini ternyata tidak semua pihak sepakat. Buktinya, perusahaan sekaliber Honeywell Cable, mengeluarkan hasil test yang seolah menyanggah isu ini. Mereka mengatakan, dari sisi elektrikal tidak ada masalah berarti antara kabel ber-braid tembaga (copper) dengan aluminium (copper covered aluminium), kecuali soal jarak. Hal ini diperkuat dengan bukti test di laboratorium yang kesimpulanya RG-59/U copper bisa mencapai 750feet (250m), sedangkan copper covered aluminium hanya sampai 600feet (200m).

Troubleshooting Dasar
Terlepas pro-kontra bahan kabel, bagaimanakah jika kabel sudah ditarik, tetapi masih menyisakan gangguan pada gambar? Berbekal konsep resistansi DC dan terminasi, kita bisa mulai troubleshooting dasar berikut ini:



1. Lepaslah connector BNC pada DVR.
2. Lepaslah connector BNC camera.
3. Hubungsingkatlah bagian tengah dan luar BNC camera.
4. Ukurlah resistansinya di sisi DVR dengan memakai digital multitester.
5. Jika diperoleh nilai antara 10 - 15 ohm, maka resistansi kabel bisa diterima. 
    Nilai di bawah 10 ohm lebih bagus, dan jika di atas 15 ohm bisa menjadi masalah.
6. Lepas jumper di sisi camera.
7. Masukkan BNC pada input DVR.
8. Ukurlah terminasi DVR di ujung kabel camera. Nilai 76 - 90 ohm berarti terminasi benar. Nilai 36 - 52 ohm berarti ada dua kali terminasi (periksa sambungan T, junction box dan peralatan lain). Jika resistansi tidak terbaca, DVR akan menampilkan no video.

Dengan menerapkan teknik ini, akhirnya bisa disimpulkan termasuk kategori manakah masalah CCTV yang kita hadapi, apakah soal panjang kabel, material kabel ataukah soal terminasi?