Senin, 15 Juli 2013

Infrastruktur IP Camera

                                                    

Sekalipun dari sisi teknologi menawarkan kemudahan dan fleksibilitas, namun saat ini -diakui atau tidak- IP camera masih belum menunjukkan kedigjayaannya atas camera analog. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya camera analog yang berjaya di pasaran saat ini, khususnya produk dari trio Korea-Taiwan-China. Fenomena ini sungguh kontras dengan DVR dan VCR. Pada era 80 hingga 90-an, VCR mendominasi pasar sebagai sarana perekaman video analog. Namun, memasuki tahun 2000 peranannya sedikit demi sedikit tergeser oleh kehadiran DVR yang kala itu banyak menawarkan keunggulan, misalnya bebas rollin(gambar kusut) dan mudah dalam mencari hasil rekaman. Tetapi apa yang terjadi kini? Kini bisa dikatakan bahwa era VCR sudah end of the story. Akankah hal serupa menimpa pula camera analog? Biarkanlah sang waktu yang akan menjawabnya. It's just a matter of time.

Sejatinya, teknologi IP camera yang handal ini disambut dengan antusias oleh pasar. Tetapi dalam satu survei yang dilakukan oleh situs IP video terkenal di luar negeri disimpulkan, bahwa kendala terbesar bagi penetrasi pasar IP camera, ternyata (lagi-lagi) adalah soal harga. Memang agak aneh, tetapi itulah kenyataannya. Price, price, price, demikian kata sebagian besar responden yang dilibatkan dalam survei tersebut. Kebanyakan dari responden nya adalah para integrator sistem dengan segudang pengalaman yang mumpuni tentunya. Kesimpulan ini tidak jauh berbeda dengan pendapat kami beberapa waktu lalu.

Namun, dalam topik mendatang kami tidak akan membahas soal survei menyurvei. Biarlah soal itu kita serahkan pada para analis dan pakar. Insya Allah, kami akan membahas seputar ilmu dasar apakah yang harus dimiliki dalam kita menggeluti IP camera? Topik ini kami anggap penting agar kita lebih interest dalam bidang yang satu ini. Stay tune!