Rabu, 14 Agustus 2013

Sekilas Mengenai Siren Alarm


Topik yang jarang sekali disinggung dalam bahasan seputar alarm adalah sirine. Padahal sirine merupakan bagian sistem alarm yang penting, bahkan sangat penting. Sebagaimana diketahui tujuan utama dipasangnya sistem alarm adalah untuk memberi peringatan akan terjadinya bahaya. Jenis peringatan tersebut ada yang sifatnya lokal (berupa bunyi siren atau kilatan lampu), ada yang sifatnya pemberitahuan melalui telepon dan ada pula yang berupa sinyal reporting ke pusat alarm monitoring. Sebagai bagian dari sistem alarm, peran sirine tentu saja tidak bisa diabaikan. Tapi tahukah anda, bahwa terdapat sekian banyak model siren yang beredar di pasaran? Bagaimanakah cara memilih siren yang tepat? Parameter siren apa sajakah yang selama ini luput dari pembicaraan, baik oleh penjual maupun teknisi? Apakah dampaknya pada sistem apabila kita memasang sirine yang terlalu besar? 


Selain istilah sirine atau siren (dibaca: sayren) kita sering jumpai pula istilah lainnya, seperti: bell, sounder, siren horn speaker, buzzer, strobe dan lainnya. Kendati semuanya merujuk pada maksud yang sama -yaitu output alarm- namun dalam beberapa hal terdapat perbedaan satu sama lain. Khusus istilah yang terakhir -yaitu strobe- maka istilah ini dipakai untuk menunjukkan cahaya lampu, bukan bunyi.  Jadi, jika dijumpai istilah siren with strobe atau siren strobe, maka maksudnya adalah siren yang sudah dilengkapi dengan lampu kilat.

Bell

Istilah bell dipakai pada sebagian merk panel alarm, sebut saja merk DSC. Padahal secara umum, istilah ini lebih sering dipakai pada sistem alarm kebakaran (fire alarm) dengan sebutan fire alarm bell dengan bentuknya yang khas. Bell ini hanya terdiri dari kumparan (coil) dan pemukul (gong), tanpa rangkaian elektronik. Pada sebagian tipe ada yang disebut motorized bell dengan variasi tegangan 12VDC, 24VDC dan 220VAC. Parameter lainnya adalah diameter, misalkan 4, 6 atau 8 inch. Sedangkan arus nominal biasanya disebutkan pada labelnya, misalkan 28mA pada 24VDC. Oleh karena bell menempati bahasan tersendiri pada sistem fire alarm, maka uraiannya hanya sebatas ini. 

Sounder
Istilah ini sering dipakai dalam dokumen penawaran sistem alarm. Mungkin hal ini dimaksudkan agar vendor bebas dalam menentukan bentuk dan modelnya, asalkan memenuhi spesifikasi yang diminta. 

Siren Horn Speaker
Istilah yang sering dicampuraduk adalah siren horn speaker. Padahal menurut hemat kami hanya ada dua istilah yang bisa membedakan satu sama lain, yaitu siren dan speaker. Sedangkan horn yang menurut istilahnya berarti corong, maka hal ini menunjukkan pada bentuk. Perbedaan antara siren dengan speaker: jika dicantumkan tegangan, misalkan 12VDC, maka itu adalah siren. Namun, jika yang tercantum adalah ohm dan watt, maka itu menandakan speaker. Jadi, apabila panel alarm mengeluarkan tegangan 12V pada saat terjadi alarm, maka saat itulah kita memerlukan siren (bukan speaker). Tetapi jika panel menyediakan pilihan antara siren atau speaker (misalnya merk Texecom atau Micron), maka pastikanlah kita sudah benar dalam memrogramnya, sebab adakalanya bunyi siren seolah-olah "tidak lepas" disebabkan kita membiarkan program default pada mode speaker. Namun, hal yang perlu diwaspadai adalah jika kita memakai speaker, tetapi panel mengeluarkan tegangan 12V.

                                
                                      Siren 12VDC / 200mA                Speaker 8 Ohm / 15W



Bare Siren
Istilah ini hanya istilah kami saja, sebab di pasaran tidak ditemukan nama ini.  Bare siren maksudnya adalah siren yang belum dilengkapi dengan box seperti pada gambar pembukaan di atas. Jika kondisi lapangan memungkinkan untuk menyembunyikan siren ini –supaya tidak terlihat atau terkena panas dan hujan- maka tidak mengapa siren ini dipasang apa adanya.

Siren with Metal Box
Siren bisa juga ditempatkan di dalam metal box supaya terlindung sekaligus memberikan kesan seram. Pada bagian luar box biasanya tertera label perusahaan pemasang alarm, baik berupa stiker maupun sablon. Maksudnya sebagai tanda bahwasanya di lokasi tersebut telah terpasang sistem alarm. Metal box ini dilindungi oleh saklar yang disebut tamper switch. Saat penutupnya dibuka (misalnya mau disabotase), saklar ini akan kontak sebelum sekrup benar-benar lepas. Akibatnya siren berbunyi dan akan menciutkan nyali si pencuri.


          
Siren with Strobe
Dalam keadaan tertentu, bunyi siren sulit diidentifikasi dari mana asalnya. Sebut saja di kompleks pertokoan dimana terdapat beberapa toko yang memasang sistem alarm. Petugas keamanan kompleks akan kesulitan dalam mencari siren mana yang berbunyi. Oleh sebab itu, di atas box siren umumnya terpasang lampu yang berkedip bersamaan dengan bunyi siren. Lampu ini dinamakan strobe atau strobo light. Dengan demikian, petugas keamanan bisa mengetahui dengan pasti siren mana yang berbunyi.


Selain box model lawas seperti di atas, terdapat pula model yang modern, minimalis dan terbuat dari bahan plastik, seperti contoh di bawah ini:


Siren with Backup Battery
Satu jenis paling populer saat ini adalah siren yang dilengkapi dengan baterai backup. Tujuannya adalah saat kabelnya dipotong, siren akan berbunyi keras.  Mengapa bisa demikian? Saat kabel dipotong, terjadilah apa yang disebut open loop. Siren akan berbunyi nyaring, karena walaupun sudah terputus dari panel, namun siren masih di-supply langsung dari internal baterainya. Jika sudah demikian, sebelum menjalankan aksinya pencuri mesti “sabar” menunggu hingga baterainya habis. Umumnya siren jenis ini memiliki casing terbuat dari bahan plastik (polycarbonate) yang kokoh. Pada beberapa tipe, rangkaian elektronik di dalamnya dilindungi lagi oleh plat besi, sehingga tahan terhadap hantaman palu dan semisalnya. Siren tipe ini umumnya sudah dilengkapi dengan lampu strobo dan tamper switch. Dengan berbagai bentuk dan model, siren ini terlihat lebih kompak.


(Bersambung)